Revolusi Hijau

PENGERTIAN

Revolusi hijau merupakan usaha pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan ptoduktivitas pertanian. Teknologi pertanian tradisional ke Teknologi pertanian modern

TUJUAN

Revolusi hijau bertujuan untuk mencukupi tanaman pangan penduduk.

SEJARAH SINGKAT

Teknik revolusi hijau pertama kali dikembangkan oleh Ford dan Rockefeller Foundation yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960). Pengembangannya ditekankan pada serealia, yaitu tanaman biji-bijian seperti padi, jagung, dan gandum. Alasan penerapan teknik ini yaitu karena berbanding terbaliknya pertambahan jumlah penduduk dengan kapasitas produksi gandum. Adapun rincian lebih jelasnya mengenai latar belakang revolusi hijau yaitu sebagai berikut:

  1. Pertambahan penduduk yang pesat
  2. Lahan pertanian yang sempit
  3. Kebutuhan pangan yang meningkat akibat pertambahan penduduk yang cepat
  4. Adanya upaya penambahan hasil produksi pertanian
  5. Kerusakan lahan akibat ulah tangan manusia

Sehingga, mereka pun menggenjot pertaniannya melalui riset, penyuluhan, dan pengembangan infrastruktur yang didanai oleh Ford Foundation, Rockefeller Foundation, dan beberapa lembaga besar lainnya. Sebagai hasilnya, Meksiko yang pada tahun 1943 mengimpor gandum berhasil memenuhi kebutuhannya pada tahun 1956 dan mengekspor ke berbagai negara pada selang 8 tahun setelah keberhasilannya.

PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Setelah keberhasilannya dalam mengembangkan teknik revolusi hijau di Meksiko, Ford Foundation dan Rockefeller Foundation kemudian menyebarkan teknik ini ke beberapa negara dengan memfokuskan pada tanaman padi. Selain itu, didirikan pula International Rice Research Institute (IRRI) di Los Banos, Filipina. Sebagai hasilnya, ditemukanlah benih-benih padi unggul seperti padi IR 64 dan IR 36. Produk tersebut berhasil diterapkan di Indonesia. Namun, benih ini membutuhkan perawatan khusus dalam penanamannya untuk menghasilkan produksi yang maksimum. Jika tidak, hasilnya tidak akan lebih baik dari yang dihasilkan oleh benih lokal. Kemudian, IRRI mulai bekerja sama dengan Indonesia pada tahun 1972 melalui Balai Litbang Pertanian Departemen Pertanian.

PROSES

Terdapat tiga proses yang diterapkan dalam merealisasikan teknik revolusi hijau, yaitu:

a.      Intensifikasi pertanian

Intensifikasi pertanian dilakukan melalui program Panca Usaha Tani (PUT). Program ini merupakan 5 bentuk usaha untuk meningkatkan hasil pertanian yang meliputi:

  • Pengolahan tanah yang baik
  • Penggunaan bibit unggul
  • Pemupukan dengan tepat
  • Pengaturan irigasi
  • Pemberantasan hama dengan pestisida

b.      Varietas unggul

Revolusi hijau delakukan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul dan mampu beradaptasi. Adaptasi yang dimaksud yaitu:

  • Adaptasi geografis yang luas
  • Responsif terhadap air dan pemupukan
  • Resisten terhadap hama dan penyakit

c.       Konsistensi

Sebagai penunjang dalam upaya peningkatan kualitas produksi pertanian terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu:

  • Mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitasnya
  • Perlu adanya diversifikasi pangan
  • Tanaman leguminoseae perlu hasil yang lebih menarik
  • Peningkatan protein melalui peningkatan produksi hasil
  • Ketahanan penyakit dalam penyimpanan
  • Aman untuk dikonsumsi

KENDALA

Teknik revolusi hijau yang diterapkan ini tidaklah benar-benar berjalan dengan baik, ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu:

  1. Varietas unggul umumnya hanya akan menghasilkan panen yang baik bila diberi pupuk dan pengairan yang tepat.
  2. Lahan-lahan potensial untuk pertanian letak geografisnya kurang menguntungkan, seperti jauh dari penduduk atau belum mempunyai sistem irigasi sehingga lahan tersebut sulit untuk dimanfaatkan.
  3. Banyak lahan yang secara geografis menguntungkan namun keadaan tanahnya kritis dan kurang subur.
  4. Adanya hama, misalnya serangga atau hewan lain yang dilindungi.

HASIL

Melalui kerja sama dari lembaga-lembaga pestisida seperti CIBA (anak perisahaan BASF) dan PT Benih Inti Subur Intani (kepanjangan tangan dari Monsanto Corp), akhirnya Indonesia berhasil meningkatkan produktivitas pertanian tanaman padi dengan tercapainya swasembada beras pada tahun 1984. Jika pada tahun 1972 produksi beras hanya sebesar 20 juta ton atau 3,21 ton/ Ha, pada tahun 1984 meningkat menjadi 38,14 juta ton atau 3,91 ton/ Ha. Sehingga, kini Indonesia tidak perlu mengimpor beras lagi seperti yang dilakukan ketika belum mencapai swasembada beras yakni sebesar 2,5 juta ton per tahunnya. Namun, peningkatan ini hanya berlangsung hingga awal tahun 1990. Setelah itu, produksinya menurun. Pertambahan produksi padi yang di awal peningkatannya pada tahun 1974 hingga tahun 1980 yaitu sebesar 4,8 % per tahun, pada tahun 1981 hingga 1990 menjadi sebesar 4,35 % per tahun, dan pada tahun 1991 hingga 2000 sebesar 1,32 % per tahun. Pada tahun 2004 hingga 2005 pun kembali turun sebesar 1,75 % dari 54,06 menjadi 53,12 juta ton.

DAMPAK

Berkat pelaksanaannya yang dilakukan secara konsisten, namun mungkin tidak secara tepat sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan mulai dari penanaman hingga pemanenan maka diperoleh beberapa dampak (positif dan negatif) sebagai berikut:

a.      Dampak positif

Keuntungan yang dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat dari hasil penerapan teknik revolusi hijau yaitu:

  • Bertambahnya lahan pekerjaan
  • Meningkatnya hasil pertanian
  • Terpacunya perkembangan ekonomi masyarakat
  • Meningkatknya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya teknologi

b.      Dampak negatif

Kerugian yang dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat dari hasil penerapan teknik revolusi hijau yaitu:

  • Berubahnya orientasi masyarakat petani (budaya pertanian) dalam memproduksi beras yang pada awalnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini untuk jual beli.
  • Mulai ditinggalkannya benih-benih lokal dan digunakannya benih-benih impor.
  • Terbentuknya penyederhanaan komoditas dengan menjadikan beras sebagai satu-satunya komoditi yang diproduksi oleh petani Indonesia. Meskipun masih ada beberapa petani yang menerapkan siklus tanam pada lahan pertaniannya.
  • Menurunnya kemampuan organisme dan mikroorganisme tanah dalam membantu menyuburkan tanah. Akibatnya dalam kurun waktu 20-30 tahun mendatang akan terjadi titik balik penurunan produktivitas pertanian.
  • Tercemarnya lingkungan oleh bahan-bahan kimia berbahaya.
  • Menurunnya keanekaragaman hayati akibat dari pembukaan lahan baru. Sehingga, dapat menyebabkan hilangnya spesies tumbuhan atau hewan yang mungkin mengandung gen yang sangat dibutuhkan.

Sumber: Berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s